JourneyOriginal

Untuk Anak-anak Indonesia 2

Ditulis oleh: Shinta Retnani

“Aku sekolah di laut, aku tidak bisa duduk di meja”

Begitu kata Lobo padaku ketika aku bertanya kenapa dia tidak bersekolah. 

“Gurunya juga sering memukulku, aku tidak mau, sekolahku di laut” Lagi-lagi dia menyebut laut. 

Kabei, seorang bajau di kepulauan wakatobi, mengiyakan. “Aku tidak mau anakku sekolah, tidak ada gunanya. Sekolah saja di laut” 

Adalah kampung sampela, sekitar 15 menit menaiki sampan dari kepulauan Kaledupa, salah satu pulau di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Adalah kampung para bajau, salah satu suku kebanggaan Indonesia, penyelam ulung dan berkehidupan dari laut. Di kampung ini, sebagian anak Bajau sudah bersekolah, gurunya datang dari Kaledupa yang berbahasa berbeda dan budaya yang berbeda dengan anak-anak bajau yang dari kecil menghabiskan waktu di laut, berenang, mencari ikan, membantu Ayah atau Ibunya menghidupi keluarga mereka dengan mencari ikan. Kemudian tidaklah salah bila banyak dari mereka tidak betah ketika harus duduk di kelas selama 6-7 jam sehari untuk mendengarkan guru yang bahkan tidak berbahasa sama dengan mereka! 

Kita sering lupa bahwa sekolah bukanlah gedungnya. Pelajaran tidak hanya didapat dari kelas formal dan guru yang berdiri di depan papan tulis, memberikan kita banyak tugas. 

Ketika Kabei dan Lobo melaut, Lobo mendapat banyak sekali pelajaran dari Ayahnya, tentang mencari tempat yang baik untuk mencari ikan, membaca angin yang akan membantu sampan mereka, menghindari arus yang besar dan menghargai alam dengan menghargai laut yang memberikan mereka kehidupan. 

Ya, mereka tetapi butuh membaca dan menulis, untuk mendapatkan pengetahuan dan kebijaksaan, tetapi mungkin sistem pengajaran kita boleh menoleh sedikit kepada pendekatan budaya dan bahasa, yang sungguh tidak terkira banyaknya dan kayanya di negara kita Indonesia. 

Anak-anak ini, yang nantinya akan menjadi tumpuan bangsa. 

Agak klise sepertinya, tetapi benar adanya. Mereka lah yang akan menunjukkan betapa beragamnya kita sebagai bangsa, betapa kayanya kita dan betapa kita tahu menjaga itu semua untuk tetap menjadi keutuhan Indonesia Raya. 

Selamat hari anak Nasional, 23 Juli. 

Untuk anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke, kami berharap banyak pada kalian!

*Shinta Retnani adalah seorang produser dan fixer film dokumenter. Pekerjaannya ini membawanya keliling Indonesia dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai suku dan latar belakang. Pengalamannya tersebut membuatnya dapat melihat Indonesia dari sangat dekat. 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *