Ditulis oleh: Shinta Retnani

Pekerjaan sebagai seorang fixer dari film dokumenter dari Sabang sampai Merauke selama kurang lebih 10 tahun terakhir ini memang membawa saya bertemu banyak hal. Dan yang paling pasti tidak pernah absen adalah bertemu anak-anak. 

Satu kesamaan mereka, anak-anak adalah jiwa yang murni, yang riang, yang bahagia dan senantiasa bersenang hati di setiap kesempatan kami bertemu.

Tentu saja ada cerita anak-anak yang kurang menyenangkan bila tidak kita sebut menyedihkan, tetapi itu hampir hanya sebagian kecil saja dari memoriku. Hampir semua foto yang aku simpan, adalah foto anak-anak yang tersenyum lebar, dengan mata berbinar-binar, bahkan ada yang meloncat kegirangan, dan juga berteriak atau berlari tak keruan. Bila kau duduk denganku dan bertanya siapa anak-anak di foto-foto itu, aku hampir bisa menceritakan semuanya, dari mulai perilakunya, cerita yang paling menarik dari mereka, hingga bagaimana mereka berkomunikasi dengan tulus dan jujur, mungkin butuh semalaman suntuk, mungkin lebih.

Akan aku mulai dengan pertemananku dengan Anis. bocah dari Korowai batu ini, tinggal nun jauh di tepi kali — di Papua. Anis, sekitar 6 tahun, berbahasa indonesia dengan sangat baik dan benar, dia tinggal di sebuah desa bernama Muara dan bertetangga dengan Pak Pendeta, yang mengajarkan dia berbahasa Indonesia. 

Bila sedang menangis, Anis bisa membuat warga desa segera meninggalkan kegiatannya dan pergi. Sangat keras dan berjam-jam. Pernah suatu pagi, setelah menangis sangat keras hampir 2 jam, dia menyapaku di tenda di pinggir desa. Aku kemudian menggodanya 

“Ah, Anis, aku tidak bisa tidur tadi pagi, ada anak menangis keras sekali!. Kau tahu siapa ?”

“ Itu Aku!!!” Anis menjawab dengan bangga dan tanpa ragu-ragu sedikitpun. 

Senyumnya lebar, memamerkan giginya. Tingginya tidak lebih dari 1m, tubuhnya yang hitam legam, hampir selalu telanjang sepanjang hari. 

Anis sangat menyayangi Mamanya. Selama aku menghabiskan waktu di desa dan bermain-main bersama anak-anak, dia selalu menghampiriku dan menyelaku bicara. 

“Sintan, aku minta sabun untuk mamaku”

Atau “ Sintan, aku lihat kamu ada kue, boleh aku minta untuk mama”

Wajahnya yang polos dan meminta sesuatu dengan lugasnya untuk mamanya tercinta membuatku luluh. Kami, para kru yang tinggal beberapa bulan lamanya disana, pernah berdiskusi, bila kami bisa membawa anak-anak ini pergi dari sana, siapa yang akan kami bawa. Semua punya favorit masing-masing. Aku punya beberapa, dan Anis, ada di urutan 3 teratas. 

Anak-anak di desa ini sangat sering terkena Malaria, tetapi karena daya tahan tubuh mereka yang sangat kuat, anak-anak ini sangat tahan banting. Epson, salah satu anak di desa, sekitar 3 tahun, pernah terkena malaria, suatu malam dia menggigil tak keruan, kami yang membawa medic memberinya obat, dan aku bertugas untuk memegangnya yang menangis meronta. Aku tidak kuat melihatnya menderita begitu. Maka terkejutlah aku melihat esok paginya, Epson sudah bertandang ke tempat kami menginap di rumah Pak Pendeta, tersenyum di pojok ruangan dan dengan malu-malu menerima kue pagi itu, dan secangkir teh yang kubuatkan. 

“Epson sudah merasa lebih baik?”

Dia mengangguk pelan, untuk kemudian 10 menit kemudian sudah berlari-lari dan menjerit-jerit kegirangan dengan teman-temannya di depan pondok. 

Sayangnya, seperti cerita di banyak pedalaman. Fasilitas Sekolah dan Kesehatan sangat tidak memadai. Bila tidak ada guru yang bertugas, Pak Pendeta dan asistennya masih bisa mengajari mereka berhitung dan membaca. Tapi untuk kesehatan, bisa dibilang tidak ada yang bisa diandalkan, klinik kecil paling dekat sekitar 6 jam menaiki kapal ke arah hilir sungai, itupun bila sedang ada kapal yang berlabuh, bila tidak, entah bagaimana nasibnya. Perut mereka kebanyakan buncit, kami belum sempat mencari tahu secara medis, kami hanya mengira-ira, mungkin mereka cacingan.  Beberapa bayi bahkan meninggal sebelum berumur 5 tahun, karena kurangnya fasilitas kesehatan. 

Pernah suatu kali di tengah hutan belantara tempat kami mendirikan camp, suami istri datang dengan membawa anaknya yang balita. Kami yang sedang sarapan cepat-cepat menyelesaikan makan kami dan menemui mereka. Setelah kami melihat, kondisi anak balita ini sangat memprihatinkan, hampir seluruh tubuhnya infeksi, terutama punggungnya. Sang Ibu yang menggendongnya kurang lebih setelah seharian berjalan kaki. Ya berjalan kaki, mengatakan bahwa awalnya seperti gigitan nyamuk yang mereka garuk kemudian menyebar ke seluruh tubuh yang menyebabkan luka-luka. 

Ketika teman medis kami memberikan pengobatan, dibantu olehku sambil menerjemahkan, si anak kecil tidak berdosa ini sama sekali tidak mengeluh atau menangis, padahal kami mengoleskan salep di sekujur tubuhnya, dan pasti perih sekali. Matanya sesekali tertutup dan kemudian membuka kembali melihat mamanya, tetapi tidak ada suara tangisan keluar dari si anak ini. Kami semua yang disitu terharu dan memberi mereka semangat. 

Setelah kami beri obat dan menyilahkan mereka makan, sang Ayah langsung pamit pulang. 

“Tinggal dulu untuk makan siang” kataku 

“Tidak, kami harus pulang sekarang, karena dibutuhkan satu hari penuh untuk berjalan kaki pulang. Kami sengaja kesini karena kami dengar Kakak ada bawa dokter dan membawa obat, tapi rumah kami jauh. Kalau kami pulang siang, kami akan kemalaman dan harus bermalam di hutan, tidak mungkin. Kami harus jalan sekarang. 

Kami seluruh kru tidak habis pikir dan menggeleng-geleng kepala. Kami berikan bekal seadanya. Beberapa biskuit dan bekal makan siang. Dan mereka pun menghilang di rerimbunan hutan. 

Selamat hari anak Nasional, 23 Juli. 

Untuk anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke, kami berharap banyak pada kalian! 

 

*Shinta Retnani adalah seorang produser dan fixer film dokumenter. Pekerjaannya ini membawanya keliling Indonesia dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai suku dan latar belakang. Pengalamannya tersebut membuatnya dapat melihat Indonesia dari sangat dekat. 

asamedia

You may also like

Film

Sowan (watch)

SOWAN is the first short film produced by Asa Film. The story is ...

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *